FAN FICTION : MIRACLE IN RAIN

Selasa, 15 Maret 2016

MIRACLE IN RAIN...
Cast : Song jjoongki park bomi Genre : romance, angst
Author : Mothi

Semua berawal dari hujan... dan berakhir pun dari hujan... Author pov. Matahari menyambut pagi, suara alarm mengusik seorang namja muda yg tengah bertarung di alam mimpinya, ia membuka mata dan mengerang mengusir rasa kantuknya. "Mana ponselku? Ahh... ternyata kau disini" gumam namja itu. "Good morning chagi..." namja itu tersenyum hangat menatap layar ponsel yg dipenuhi gambar wajah yeoja imut dihadapannya. Mereka adalah sepasang manusia yg haus rasa cinta, begitulah keseharian mereka setiap pagi. Menatap wajah sang kekasih untuk mengawali hari...sudah menjadi peraturan wajib dan tak boleh sedikitpun dilupakan.

(Kau tahu...begitu aku melihatmu, rasanya aku tak ingin pergi...apakah kau merasakan hal yg sama denganku?) Author pov end.
Bomi pov.
Hari ini aku akan pergi sekolah,selalu saja begitu. Rasanya agak malas meninggalkan tempat tidur. Namjachinguku baru saja menelpon untuk membangunkanku. Hahh... wajahnya tampan...oh tidak, aku hampir telat. Bomi pov end.
Author pov.
Riuh suara hujan membuat sepasang insani ini menggerutu sebal dinaungi bangunan halte kecil di atasnya. Mereka terdiam dalam bisingnya suara hujan, hanyut akan bau tanah basah yg menenangkan. Tangannya berpadu kuat, seakan tak ingin lepas. Mereka menikmati saat saat langka itu. " apa kau kedinginan?" Tanya seorang namja yg bernama joong ki itu. " tidak, aku suka dingin." Jawab bomi tegas. Joong ki hanya mengangguk, ia merasa canggung. " oppa, kenapa bis nya belum datang?" Tanya bomi resah. " entahlah, mungkin macet di jalan." Jawab joong ki sekedar nya. Bomi menghembuskan napas beratnya. Suasananya jadi semakin canggung. " ayo kita pergi, daripada terlambat!" Bomi menarik tangan joong ki dan berlari bersama di bawah hujan. Joong ki sempat kaget, namun ia menerimanya.
(Maafkan aku, aku hanya ingin berlari denganmu. Hanya denganmu...)

Disekolah... Setelah berganti baju seragam yg basah karna hujan, mereka melanjutkan pelajaran olahraga. Mereka beruntung karna pihak sekolah mau meminjamkan baju seragam untuk mereka.
" hari ini kita akan latihan berlari 300 meter. Yg sampai kembalinya paling cepat akan saya beri poin lebih." Terang kim songsaenim, guru di sekolah mereka. Entah takdir atau memang sengaja, bomi dan joong ki menjadi pasangan pelari pertama. Kim songsaenim member aba aba, lalu mereka berlari beriringan dan tertawa, dan pada akhirnya joong ki yg memenangkan pertandingan lari.
(Kau tahu, melihatmu tertawa itu adalah bahagiaku, tawamu adalah tawaku... maka jangan sungkan tertawa bersamaku...)
Jam pelajaran tlah usai, bomi dan joong ki berjalan beriringan keluar sekolah. Tidak ada yg tahu kalau mereka itu saling mencintai, maka tak ada yg mengganggu mereka sekalipun. " bomi ya... kau lapar tidak?" Joong ki menepuk nepuk perutnya, bomi tertawa dan ikut menepuk perut joong ki. " kau ini... ayo kita ke kedai tteobokki. Entah kenapa aku sangat ingin makan tteobokki." Bomi menarik tangan joong ki lalu membawa joong ki berlari menuju kedai tteobokki. Jantung joong ki berpacu cepat, matanya membulat, senyumnya merekah hangat, ia menikmati setiap bomi menariknya berlari, menurutnya itu suatu kecanduan.

Di kedai tteobokki... Joong ki mengusap keringat bomi yg berkumpul di dahi mulus milik yeojanya itu. Tentu saja dengan sebuah tisu lembut yg disediakan di kedai tersebut. Bomi menatap setiap lekuk wajah joong ki. Dimulai dari matanya yg indah, hidungnya yg tak terlalu mancung namun berkesan imut, pipi chubby yg menggemaskan, dan berakhir pada bibir tipis merah muda yg terkesan imut dan seksi. Bomi pov. Oh tidak, ada apa denganku? Bibir itu... apa aku boleh mengecupnya? Sebentar saja... oh tidak, kau tampan sekali hari ini... hmmm dari dulu memang... namun bibir itu...bibir merahmu yg menggodaku... oh tidak, ada apa denganku??? " ada apa bomi ya? Ada yg salah dengan wajahku? Apa ada kotoran? Dimana?" Kumpulan pertanyaan joong ki menyadarkanku seketika. Wajahku jadi terlihat merah padam menahan malu, apalagi kalau joong ki tahu apa yg kufikirkan tadi... oh tidak matilah aku. " a..ti..tidak ada apa apa oppa. Tadi aku hanya melamun." Joong ki mengerutkan keningnya sesaat, menatapku dengan tatapan heran. " tapi tadi kau memperhatikan wajahku. Apa...aku terlihat tampan hari ini? Ahh... yg benar saja, bukankah setiap hari aku ini tampan?" Joong ki menatap wajahku sangat dekat....sangat dekat.
" ma...maaf, pesanan anda sudah siap. Maaf jika saya menggangu..." ucap pelayan wanita kedai itu. Astaga tuhan... semerah apa wajahku saat ini?.... hufft... Bomi pov end.
Author pov.
Keduanya dalam keadaan diam sekarang. Menahan malu sekaligus senang yg membuat mereka bungkam. " baiklah... ayo kita makan sebelum tteobokki ini dingin." Joong ki memecah suasana itu dengan hangat. " huahh... perutku ini selalu saja konser sejak tadi. Huahh... makan yg banyak bomi ya... besok aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Makanlah..." bomi tersenyum manis, mengangkat sumpitnya lalu memakan hidangan dengan lahap. Joong ki yg gemas hanya membelai hangat rambut panjang bomi yg halus. Lalu menikmati makanan sepenuh hati.
(Izinkan aku memandangimu... sebelum akhirnya kau tinggalkan aku...biarkan aku bersamamu...sebelum kau melepasku dan dunia ini... lepaskan semua bebanmu... dan nikmatilah)
Joong ki pov. Setalah aku mengantarkan bomi pulang, aku sudah memiliki janji dengan dokter pribadiku. Entah kenapa hari ini aku sangat malas kesana, membuang waktuku yg berharga saja. Kuputuskan untuk pulang ke rumah lalu berbelanja baju untuk bomi. Anggap saja ini hadiahku yg pertama untuknya, ahh... waktunya berperang dengan pakaian wanita sekarang. Bomi, kuharap kau menerima baju ini sesuai dengan yg kau inginkan.
Toko pakaian.... Setelah menyusuri banyak pakaian di toko ini, aku masih belum menemukan pakaian yg cocok untuk bomi. oh tidak, itu kan pakaian dalam wanita.... astaga ada apa denganku? Bagaimana jika bomi memakai pakaian itu? Kuharap suatu saat nanti aku dapat melihatnya... hihihi.

Ahh...akhirnya aku menemukan pakaian yg pas untuk bomi. Dress tanpa lengan selutut berwarna soft pink ini sangat imut. Apalagi kalau bomi yg memakainya. Langsung saja dress ini kubawa menuju kasir,tak sabar menanti esok, pertemuanku dengan bomi. Joong ki pov end. Bomi pov. Malam ini terasa sangat panjang. Panas sekali di sini, oh aku juga merasa haus, ku genggam dan langsung ku teguk air putih ini. Tuhan, terimakasih karena kau berikan joong ki oppa untukku. Jangan kau lepaskan aku dengannya. Ikatkan kami dalam cinta hingga kami tua. Satukan kami dalam ikatan pernikahan nanti. Hingga kau takdirkan .anak cucu kami bersama dengan jodoh mereka, sempatkan kami melihat keturunan kami berumah tangga, dan terserah padamu siapa yg kau ambil lebih dulu, biarkan kami bahagia menua disini, kumohon...
Kutarik selimut dan SELAMAT MALAM DUNIA. Bomi pov end.
(Kemarin aku bahagia bersamamu... lalu kenapa skarang kau biarkan aku menangis? Mengapa kau jatuhkan aku disini? Lalu... mengapa kau tak membawaku pergi bersamamu?)
Author pov. Bomi menunggu joong ki di depan rumahnya, sudah 30 menit ia menunggu. Ia terus saja duduk memeluk kaki di pohon kenari depan rumahnya. Memainkan buah kenari yg jatuh untuk mengisi waktu menunggu joong ki yang hendak menjemputnya.
"Bomi ya, mianhae telah membuatmu menunggu lama." Joong ki duduk tepat di sebelah bomi. wajahnya yg tampan terlihat pucat, dan menguning. "Gwenchana? Kau pucat oppa." Joong ki menarik tangan bomi dengan cepat tanpa menjawab pertanyaan bomi. Membawa lari bomi dengan sigap, membuat bomi tak dapat berkata kata. Bomi mengimbangi kecepatan larinya dengan joong ki lalu mengeratkan genggaman tangannya. Tangan dingin joong ki berubah hangat dan basah oleh keringat. Mereka tertawa. Angin menerpa wajah bomi membuatnya semakin cantik. Begitu pula dengan joong ki, wajahnya tampan diterangi sinar matahari. Mereka hanyut akan kebersamaan.
Joong ki berbelok ke arah danau. Bomia tak dapat berhenti tersenyum. Joong ki berhenti tepat di depan sebuah perahu. "Ayo, naiklah" joong ki mengulurkan tangannya menuntun bomi, bomi histeris bahagia dan bercanda bersama joong ki, bermain air dan menyipratkan air kepada joong ki. Joong ki sempat terbatuk, membuat bomi khawatir.
"Kau baik baik saja?" Joong ki dapat menghentikan batuknya. "Nan gwenchana...ayo menepi, ada sesuatu yg ingin kutunjukkan untukmu." Joong ki berlari kecil setelah menepikan perahunya. "Kau mau kemanaa?" Bomi berteriak di belakang Joong ki. Ia termangu melihat rumah pohon yg tergantung indah pada pohon besar tua yg kokoh itu. "Aku mau keatas" bomi yg hendak menaiki tangga rumah pohon itu dicegah oleh joong ki. "Lihatlah besok bomi ya..." joong ki menggenggam tangan bomi. "Kau tahu, aku sudah menyiapkan kejutan untukmu. Tunggulah esok." Bomi menatap mata joong ki dengan penuh keseriusan. "Saranghae..." joong ki mendekatkan wajahnya dengan wajah bomi. Ia menangis diam, lalu mengecup hangat bibir bomi, bomi mudah menerimanya, ia makin memperdalam ciumannya. Bomi yg tadinya menikmati malah terusik dengan cairan pekat yg mengotori bibirnya, ia melepaskan ciuman pertamanya. Menatap nanar pada cairan merah pekat yg melumuri mulut kekasihnya.
Joongki mengusap darah dimulutnya, ia melihat bomi menangis dihadapannya. Ia berusaha tersenyum, bomi memeluk tubuh joong ki erat, menangis dan menangis. Joong ki mulai merasa tubuhnya dingin seketika, wajahnya menguning, ia jatuh di pelukan bomi, mereka masih berpelukan dalam keadaan duduk.
"A...aku...mencintaimu...ja...jangan pergi...hiks hiks...tetaplah disini...hiks...jangan...ting...tinggalkan aku...huaa hah haahhh hiks hiks..." susah payah joong ki berbicara menjawab kata bomi. "N...nado..se..sarang...hae. uhuk uhuk..akh" Joong ki memuntahkan darah dan berhasil mengotori baju bomi. Bomi makin Histeris. "Te..tap...disini...a..aku...ingin...melihat sunset." Joong ki tersenyum hangat melepas pelukannya. Ia kini duduk di sebelah bomi, bomi hanya mengangguk, walau masih menangis ia tetap tenang untuk joong ki. Mereka menunggu sunset beriringan dengan perasaan yg begitu pilu.
"Oppa... matahari mulai terbenam... lihatlah..." Tak ada respon sediktpun dari joong ki. "Lihatlah... mataharinya sudah terbenam. Kau...tak ingin melihatnya?" Meskipun ia tahu kalau joong ki takkan pernah lagi menjawabnya, ia masih berbicara seakan joong ki dapat mendengarnya. Entah kenapa alam ikut bersedih karnanya, hujan turun membuat malam itu begitu dingin menusuk kulit. Ia merebahkan kepala joong ki di tanah dan membiarkan jasad kekasihnya basak bersama tanah disekitarnya.
Ia menaiki tangga rumah pohon itu dengan cepat. Ia terkejut melihat foto foto mereka menggantung indah di dalam rumah pohon. "Disana, kau sangat tampan oppa..." gumam bomi tersenyum walau masih menangis. Ia melihat sebuah gaun merah muda lembut di sudut dan memeluknya. "Gomawo oppa... tidurlah dengan tenang...pergilah...aku akan melepasmu.." lalu ia kembali ke bawah menghampiri jasad kekasihnya. Ia memeluk erat sang pujaan hati, mencium kening,mata dan bibirnya. Ciuman pertama dan terakhir bagi joong ki, ia hanya berniat menyelesaikannya. "Tidurlah yg tenang sayang...aku melepasmu"
(Hujan... terimakasih... Kau yg senantiasa menemani kami bersama dibawah naunganmu. Tuhan...jagalah jantung hatiku...hingga takdirmu menuntun kami bersama lagi... selamanya)
SEKIAN......



Emoticon